AGAMA TIDAK ANTI-SAINS

 

RESENSI BUKU SAINS "RELIGIUS" AGAMA "SAINTIFIK"


AGAMA TIDAK ANTI–SAINS

Oleh: Abduloh Safik

IAIN Tulungagung

Abd.safik82@gmail.com

 

Sungguh menarik untuk memulai narasi terkait dialektika judul buku ini, apalagi mendialektikan kedua tokoh Intelektual yang masing-masing mempunya Background yang berbeda, dalam arti Mas Haidar Bagir pakar dalam filsafat sains dan Mas Ulil Filsafat Islam, tentu ini adalah bagian daripada dinamika keilmuan dari masa kemasa. Saya pikir, ini menunjukkan bahwa memang tema dialog nya sangat menarik.Seperti apa yang disampaikan oleh kedua pembicara, baik Mas Haidar Bagir dan Gus Ulil bahwa tema dialog tersebut sedang mendapatkan momentumnya lagi hari ini. Sebenarnya soal Agama Saintifik, Sains Religius sudah lama diskursusnya, bukan mulai hari ini.Seperti yang ditenggarai Gus Ulil bahwa diskursus ini kembali ramai di public disebabkan oleh terbitnya buku Out-Growing God karya Richard Dawkins dan Homo Sapiens karya Yuval Noah Harari. Menurut Gus Ulil, kedua buku tersebut dapat membentuk cara pandang kita yang deterministik-sains untuk menjelaskan kehidupan.

Sehingga agama menjadi sesuatu yang tidak dibutuhkan.Manusia cukup dengan sains untuk menjelaskan kehidupannya.R. Dawkins menyebut orang yang beragama kemudian sebagai orang yang gagal dewasa.Menurutnya beragama hanyalah fantasi lanjutan dari fase anak-anak. Sebagaimana anak-anak, mereka butuh figure sebagai tempat bersandar. Tuhan dalam konteks menjadi figure berikutnya ketika berumur dewasa.Secara tidak langsung, tuhan bagi Dawkins hanyalah imajinasi kita semata.Bagi Dawkins, kita tidak butuh agama dalam menjelaskan kehidupan. Hal ini ditegaskan oleh Gus Ulil bahwa Dawkins benar-benarmen dakwahkan ateisme. Saya ingin ringkas saja inti dari dialog tadi malam. Sebenarnya banyak hal yang menurut saya baru yang saya dapatkan dari dialog tersebut.

Kami akan memulai dari persoalan yang sangat mendasar, mari kita lacak akar adakah konflik antara Agama dan Sains ? tentunya ini sangat dibutuhkan sikap yang sangat teliti, bahwasanya sikap anti sains, kalaupun ada, itu bukan terkait dengan keimanan kepada Tuhan atau doktrin Islam, bahkan juga tak mesti terkait dengan teologi. Doktrin Islam yang diterima luas – seperti yang di diskusikan dalam bab 10, ‘ Mustahillah menverifikasi pengalaman keagamaan – sangat berpeluang untuk di tafsirkan sebagai doktrin yang mendukung sains, demikian juga akidah Islam member peluang besar bagi kesejalanan dengan keyakinan saintifik, karena adanya sampai batas tertentu, kepercayaan kepada adanya kausalitas dan hukum alam yang konsisten.

Akan tetapi faktanya, sejak masa kenabian tidak anti sains. Bahkan sains kedokteran sudah berkembang sejak zaman nabi. Selain itu dua sahabat Nabi, yaitu Ali ra, yang juga dikenal sebagai ahli dalam bidang teknologi pertanian, sedangkan Salman al Farizi sebagai seorang ahli “Teknologi”.

 Melihat fakta di atas, bahwa dalam sejarahnya para ulama-ulama zaman dahulu ternyata banyak yang ahli dibidang Sains, seperti Imam Fahrudin al Razi, (ahli kedokteran), Ibn Haitsam (penemu Optik), Al Farabi (Ahli Sosiologi), Ibn Khuldun (ahli Sejarah), bahkan Imam al Ghazali pun memuji kedokteran, matematika, ilmu logika, dan ilmu teknologi, imam syafi’i juga menganggap ilmu kedikteran sebagai ilmu yang paling utama setelah ilmu Fiqih, dan sayyid Qutb percaya sepenuhnya pada hukum alam. Selain itu golongan ulama pembaharu seperti Muhammad Abduh dikenal sangat rasionalis, M Iqbal melalui bukunya The Recontruction of Religious Thought In Islam. sampai ulama sufi besar  Ibn ‘Arabi seorang Gnostik (arif) tokoh sufi Panteisme Islam pun amat sangat menghargai alam semesta empiris sebagai Theopany (Tajalli).

Relasi agama dan sains

Bagi mas Ulil dalam argumentasinya, bahwa model-model hubungan agama dengan sains, sekurang-kurangnya ada konflik, ada independensi, ada dialog dan ada Integrasi. Sebetulnya model-model relasi agama dengan sains oleh barat sengaja dibenturkan, yang seolah-olah agama dengan sains yang tidak kaitannya sama sekali, sehingga menimbulkan cara pandang yang sangat berbeda-beda antara Islam dan barat, padahal Islam sendiri terdapat muatan-muatan sains artinya pengetahuan di sebagai suatu alat untuk mengenali tuhannya, nah dengan demikian pola-pola pembenturan antara agama dengan sains ini nampakanya sangat khas sejarah Barat.

Kenapa demikian, orang-orang barat tepatnya bagian Eropa, memiliki sejarah yang spesifik, sehingga mereka mempunyai trauma kepada Tuhan (agama), salah satu sebabnya barangkali karenadulu ketika gereja itu berkongsi dengan para raja, negara dan politik, mereka itu sedang mempraktekan agama yang sangat bengis terhadap sains, pada akhirnya para saintis dendam terhadap gereja.

Baik agama maupun sains bertujuan sekurang-kurangnya berurusan dengan hal yang sama yaitu kebenaran. Namun titik perbedaannya terletak pada sumbernya, kalau agama bersumberkan Wahyu, sedangkan sains bersumber pada ra’yu (akal, budi, rasio, reason, nous, vede, vertand, vernunft) manusia. Sedangkan agama bersumberkan wahyu.

Disamping itu ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empiris) dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian. Saians menghampiri kebenaran dengan eksplorasi akal budi secara radikal (mengakar); tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika. Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan pelbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci.

Kebenaran sains adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini). Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut) karena agama adalah wahyu yang diturunkan Allah. Baik ilmu maupun filsafat dimulai dengan sikap sanksi dan tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya atau iman.

Wal hasil. Sebagai umat Islam khususnya sebenarnya antara agama dengan sains itu tidak ada problematika yang sangat signifikan, karena kita (Islam) tidak pernah memiliki sejarah konflik dengan pengetahuan apapun. Berbeda dengan barat yang memiliki problematika sejarah terhadap agama.

Wallahu alam bi al showab

                                                                                                Tulugagung, 25 September 2020

 

Comments