'#NgajiTasawuf
#NgajiSufi, 23/06/2020
“TASAWUF” ROLE IDEAL PENCEGAHAN PERILAKU HEDONISME
Oleh: Aab Safik
Suatu problematika realitas manusia modern dalam
mengarungi kehidupannya senantiasa cenderung berburu ijabah, berburu menang,
karomah, hebat, sukses, maniak jabatan, pencitraan dsb, kondisi pola seperti
ini, akan melahirkan pengetahuan dan problematika yang krusial dikancah pendidikan
Islam dimasa akan datng, suatu orientasi agama mengajarkan tata cara pola
kehidupan yang senantiasa menyeimbangkan antara perilaku lahir maupun batin.
Salah satu problematika social adalah
kecenderungan manusia didorong oleh hasratnya untuk berupaya menjadi yang terbaik
melalui segala cara yang mereka lakukan, seperti seseorang telah merepresentasikan
melalui trainer motivation demi mencapai
kesuksesan. Dalam paradigm sufi kesuksesan itu semu dan sifatnya sementara,
tujuan besar ilmu adalah mewujudkan kesenangan jasmani dan rohani. Realitas
popular culture sebagai model hidup lebih mengedepankan potensi materi yang
mendorong manusia saling berbenturan untuk menjadi pemenang yang semu.
Persoalan ini mengudang banyak persoalan
sosial yang melahirkan bsebagai macam diskusi sehingga menghasilkan tradisi
Epistemologi Eropa yang percaya pada wujud dari sebuah yang ada(being). Persoalan
manusia seperti ini jika ditinjau dari dunia perspektif dakwah sufi masuk dalam kelompok slank yang sering
kali mengatur Tuhan mengikuti selera manusia. Kondisi pemahaman agama manusia
saat ini realitasnya menghasilkan masyarakat Islam yang hedonis hal itu tampak
dalam motivasi, cita-cita, dan inovasi bersifat Firaunis’.(Lukman Hakim:
Epistemologi Sufism: Zawq Base Science: 2014)
Kajian ini akan berupaya menelaah
epistemology imani, islami, dan ihsani, dari perspektif ilmu dakwah sebagai
pendekatan untuk menjelakan perspektif epistemologi dakwah imani, islami, dan
ihsani. Kajian ini penting karena ketika tidak akan melahirkan problematika psikologis
antara umat Islam dan umat non muslim. Misalnya persoalan taqdir sampai saat
ini masih bermasalah di tengah masyarakat. Hal ini akibat belum adanya reposisi
secara maksimal tentang cara memahami agama dengan baik, misalnya apakah
pencapaian itu stop pada ma ‟rifah, apakah filsafat itu induk dari semua ilmu,
kalau filsafat itu induk semua ilmu lalu pertanyaanya adalah filsfat induknya
siapa? Semua ini membutuhkan kajian epistemology sufy sebagai jawaban untuk
menyelesaikan problematika umat manusia yang menghadapi realitas hedonism dan
individualis yang sangat memprihatinkan kondisi modern ini.
Ibn Athaíllah al-Iskandari memberikan gambaran bahwa ada
kelemahan manusia moderen dalam menemukan ilmu, misalnya dalam kajian
epistemology rasionalisme lebih percaya pada wujud zdhahir dan lupa pada wujud
batin yang menggerakkan satu objek. Misalnya temuan para ilmuan sainstik dalam
menemukan nuklir lalu para ilmuan sainstifik menggap inilah yang ia cari.
Sementara dalam kajian epistemology sufi lebih melihat batin yang tersembunyi
di balik nuklir sehingga ketika perspektif sufi dijadikan epistemology maka
akan melahirkan cara pandangan antara manusia dan Tuhanya bahwa ini adalah
objek Allah. (Lukman Hakim: Epistemologi Sufism: Zawq Base Science: 2014)
Dengan demikian, Tasawuf sebagai model
pengembangan dakwah dan komunikasi serta teknologi informasi memiliki peran
yang sangat strategi untuk pencegahan prilaku hedonisme dan karakter ilmuan
yang berwatak Firaunis. Ketika menggunakan epitemologi Suyfi sebagai basis
pengetahuan epistemologi maka melahirkan ilmuan yang memiliki karakter profetik
yang sangat dibutuhkan dunia moderen untuk mengatasi kebuntuan dan apologi
akademik di era modern, Ajaran tasawuf hadir sebagai solusi terhadap
problematika posmoderen dalam ilmu dakwah dan komunikasi yang mulai berkembang
pesat dewasa ini.

Comments
Post a Comment