#NgajiTajulArusy


#NgajiTajulArusy. 04/06/2020


HAKEKAT ILMU PRESPEKTIF IBN ATHAÍLLAH AL SYAKANDARI DALAM KITAB TAJUL ARUSY

OLeh: AAB SAFIK


PENDAHULUAN
 Ilmu adalah salah satu pondasi kehidupan seseorang, karena ilmu akal bekerja. Ilmu menjadi landasan seseorang berpikir dan bertindak, namun sejauh ini masih banyak orang salah dalam mendefinisikan ilmu. Ketika hal ini terjadi menyebabkan paradigma keilmuwan menjadi terpecah. Ada dua model keilmuan yang berkembang di dunia muslim. Pertama, mereka yang bertahan dengan model ilmu-ilmu keislaman klasik, yang meski sarat dengan nilai-nilai keislaman, namun sangat terbatas serta kurang memiliki relevansi khususnya dengan kebutuhan umat. Kedua, mereka yang mengadopsi ilmu-ilmu Barat, yang dipandang relevan dengan realitas zaman sekarang, namun berpijak pada nilai-nilai yang berbeda dengan Islam.
Fakta dua model keilmuan ini kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai dikotomi ilmu, yakni kelompok ilmu-ilmu agama dan kelompok ilmu-ilmu umum. Nalar dikotomi melanda ilmu pengetahuan yang sekaligus menjadi pijakan berpikir. Dikotomik adalah pendekatan atas dua konsep yang saling bertentangan. Dikotomik ini muncul setelah timbulnya sekulerisasi dalam rangka membebaskan ilmuwan untuk berkreasi melalui penelitian, percobaan, dan penggalian ilmiah tanpa dibayangi ancaman gereja.  Dikotomi keilmuwan Barat berasal dari epistemologi yang pragmatismaterialistik, hal ini disebabkan pandangan ontologisnya yang tidak mengakui adanya realitas metafisik. August Comte menyatakan bahwa saat ini eranya adalah posotivistik, dimana ilmu di Barat telah meninggalkan teologis. Implikasinya, kebenaran yang diterima bersifat rasional-empirik.
Maka, sudah saatnya menggali secara mendalam konsep ilahiyah yang telah lama luput dari perhatian peneliti sebelumnya. Dalam hal ini Ibnu Atthaillah sebagai seorang sufi yang telah melahirkan tulisan pendidikan jiwa berjudul Tajul Arusy, patut mendapat porsi untuk dikaji secara mendalam akan konsep keilmuannya. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah memberikan wacana hakikat keilmuwan yang bercorak ilahiyah melalui kajian Kitab Tajul Arusy Karya Ibnu Atthaillah
Biografi Intelektual Ibnu Athaillah
bernama lengkap Tajudin Ahmad ibn Muhammad ibn Abdul Karim Ibnu Athaillah al-Sakandari. Ia dikenal dengan nama panggilan Abu Abbas dan Abu al-Fadhl. Ia bermazhab Maliki dan termasuk pemimpin tarekat Syadziliyah. Deskripsi yang sering ditulis oleh para peneliti adalah ‘arif billah (mengenal Allah); syekh dua tarekat dan imam dua kelompok, sosok alim yang menggabungkan berbagai ilmu, seperti tafsir, hadist, tata bahasa, dan ushul fikih. Ia dikenal sebagai seorang imam yang pemberani, mursyid para salik, dan teladan bagi ulama (Athaillah, 2013).  Gurunya adalah Abu al-Abbas al-Mursi Ahmad ibn Umar selam 12 tahun sekaligus berteman dengan para sahabat utama. Ia berguru dalam bidang penyucian jiwa pada Abu al-Abbas. Selain itu ia berguru kepada Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili Ali ibn Abdillah seorang pemimpin utama tarekat Syadziliyah. Ibnu Athaillah dikenal luas sebagai alim ahli ilmu syariat. Ia mengajar ilmu syariat di Universitas Al-Azhar.  Ulama besar yang menjadi muridnya adalah Imam Taqiyyudin al-Subki dan Imam al-Qurafi. Ketika mengujarkan nasehat, wejangan, dan arahan, Ia bertutur dengan seluruh hatinya sehingga setiap ucapannya berpengaruh kuat ke dalam jiwa. Para murid yang hidup semasa dengannya dan para ulama berbagai mazhab yang datang sesudahnya mengakui hal itu. Ia wafat di Kairo pada bulan Jumadil Ula tahun 709 Hijriyah. Kondisi sosial masyarakat waktu itu terbagi ke dalam beberapa strata sosial; pemerintah, para intelektual, dan masyarakat awam. Mazhab Ahlusunnah waktu itu menjadi mazhab resmi di Mesir. Dalam masalah usul mengikuti mazhab al-Asy’ari dan dalam masalah furu’ mengikuti paradigma mazhab empat. Namun, mazhab mayoritas masyarakat Mesir adalah Maliki. Beberapa tarekat sufi yang muncul di antaranya alRifa‘iyah, al-Badawiyyah, al-Qadiriyyah, al-Syadziliyyah, dan lain-lain. Kondisi sosial keagamaan Mesir berpengaruh besar pada corak berfikir Ibnu Athaillah.  Pengembaraan intelektual-spiritual Ibnu Athaillah setidaknya terbagi ke dalam tiga fase. Pertama, sebelum tahun 674 H (sebelum suhbah dengan Syeikh al-Mursi), masa belajar berbagai disiplin ilmu seperi usul fiqh, fiqh, tauhid, tafsir, hadits, balaghah, dan lain-lain, hingga beliau menjadi tokoh sentral dalam mazhab Maliki. Namun, beliau masih antipati terhadap tasawuf dan banyak berdebat dengan pengikut Syadziliyah (murid-murid Syekh al-Mursi). 
Kedua, setelah tahun 674 H, pada masa ini beliau mengakui kebenaran tasawuf setelah melakukan ‘suhbah’ dengan Syeikh al-Mursi. Selain belajar ‘suluk’ dengan Syekh al-Mursi, beliau juga masih mempelajari berbagai disiplin ilmu sekaligus mengajarkannya. Ketiga, masa kematangan spiritual-intelektual. Setelah wafatnya Syekh al-Mursi, beliau menjadi mursyid Tarekat Syadziliyah dan merumuskan dasardasarnya. Selain itu, beliau juga aktif mengajar beberapa disiplin ilmu pengetahuan di Universitas al-Azhar dan Universitas al-Mansuriyyah. Di antara mahasiswanya yang terkenal adalah Taqiyyuddin al-Subki (w.759 H), Daud al- Bakhily, dan Abu Hasan alQarrafy (Mudin, 2016).  Karya-karya yang dihasilkan oleh Ibnu Athaillah adalah: 1) Ushul Muqaddimat al-Wushul, 2) Taj al-Arusy al-Hawi ila Tahdzib al-Nufus, 3) al-Tanwir fil Isqath alTadbir, 4) al-Hikam al-‘Atha’iyyah ‘ala Lisan ahl al-Thariqah, 5) al-Thariqah alJaddah fi Nayl al-Sa’adah, 6) Latha’if al-Minan fi Manaqib al-Syeikh Abi al-Abbas wa Syaykhihi Abi al-Hasan, 7) Mukhtashar Tahdzib al-Mudawwanah li al-Baradi’iy fi alFiqh, dan 8) al-Maraqa ila al-Qadir al-A’la (Athaillah, 2013). Mayoritas karya Ibnu Athaillah membahas masalah pendidikan jiwa dan syarat dengan nasehat yang menyentuh hati. Kitab magnum opus karyanya adalah al-Hikam, dimana banyak pesantren di Indonesia yang membahas secara mendalam pesan hikmah yang terdapat dalam kitab ini.
Memahami Hakikat Ilmu Ibnu Athaillah
Tajul Arusy merupakan karya Ibnu Athaillah yang kitab aslinya berjudul Taj alArus al-Hawi ila Tahdzib al-Nufus. Kitab ini berisi pesan dan hikmah seperti pada kitab terkenalnya yaitu al-Hikam hanya saja gaya bahasanya lebih mudah dari al-Hikam. Pesan yang tertuang dalam kitab Tajul Arusy memiliki kandungan makna yang dalam. Buku tersebut menghimpun pesan-pesan penting yang diambil dari al-Qur’an dan Hadist yang berbicara kepada jiwa, hati, ruh, dan akal. Dijelaskan di dalamnya ilmu hakikat, aneka penyakit hati berikut obatnya. Hakikat ilmu dalam kitab Tajul Arusy ada 3 unsur, yaitu: 1. Ilmu yang mendatangkan rasa takut kepada Allah.  Perasaan tunduk dan takut merupakan perasaan kehambaan yang menjadi perasaan seorang murid dalam menuntut ilmu. Ibnu Athaillah mengatakan:
“Ilmu yang bermanfaat adalah yang membantu menuju ketaatan, mendatangkan rasa takut kepada Allah, dan menjaga rambu-rambu-Nya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu tentang Allah. Orang banyak berbicara tentang tauhid tetapi mengabaikan syariat berarti telah mencampakkan dirinya dalam samudera kekufuran. Jadi orang yang benar-benar alim adalah yang didukung oleh hakikat dan terikat oleh syariat. Karenanya, seorang ahli hakikat tidak boleh hanya menetapi hakikat atau berhenti hanya pada tataran syariat lahiriah. Namun ia harus berada di antara keduanya. Berhenti pada syariat lahiriah saja adalah syirik, sementara hanya menetapi hakikat tanpa terikat oleh syariat adalah sesat. Petunjuk dan hidayah terletak di antara keduanya.”

 Dalam dunia tasawuf, pembicaraan tentang hakikat dan syariah menjadi bagian yang menarik. Syariah sendiri mempunyai beberapa arti, di antaranya adalah: menyembah Allah, sesuatu yang berkenaan dengan anggota dzahir, segala sesuatu yang diperintahkan Allah dan segala sesuatu yang dilarang-Nya, dan sesuatu yang mendatangkan taklif.  Dari berbagai pandangan di atas, syariah berarti segala sesuatu, baik berupa perintah maupun larangan yang dibebankan setiap orang untuk beribadah kepadaNya dengan menitik beratkan anggota lahiriyah. Semua itu dapat dipenuhi dengan cara giat melakukan ritual ibadah yang telah ditetapkan, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan ritual ibadah Sunnah yang lain. Jika seseorang mampu melakukan syariah secara benar, maka ia disebut taat dan jika melanggar disebut berbuat maksiat. Dengan demikian syariah adalah sebuah tingkatan yang didasarkan pada ibadah dzahirah seseorang serta selalu dikaitkan dengan pahala dan dosa. 
Hakikat adalah sebuah bentuk amalan hati yang dilakukan dengan penuh kepasrahan pada Allah yang mengantarkannya pada ma'rifatullah dan nur tajalli (terbukanya hijab dalam hati sehingga tampaklah cahaya-cahaya alam gaib). Maqam ini adalah maqam istimewa karena seseorang mampu membersihkan jiwanya, fokus kepada Allah dan jauh dari hawa nafsu. Para sufi menganggap tingkatan hakikat ini adalah makna sesungguhnya dari kehidupan beragama. Karena hakikat adalah tujuan akhir dari tujuan penghambaan itu sendiri, yaitu ma’rifatullah.
Ibnu Athaillah mengingatkan kepada para pencari ilmu, bahwasanya ilmu tertinggi adalah ilmu tauhid dan puncaknya adalah ma’rifatullah. Namun demikian, proses pencapaian kepada ilmu tertinggi ini harus dilalui dengan syariah yang benar. Ibadah ritual yang telah Allah tetapkan dan disampaikan melalui nabi Muhammad SAW wajib menjadi pondasi pertama menuju pintu ma’rifat. Dalam al-Qur’an surat Fathir (35) ayat: 28, Allah berfirman: Yang takut kepada Allah hanya hamba-Nya yang berilmu.” Kata takut menjadi kata yang penting dalam pesan ini, menurut Ibnu Athaillah, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disertai rasa takut karena seorang hamba pencari ilmu yang takut pada Allah, tidak akan melanggar perintah dan larangan Allah. Maka ia menjadi sebab selamat di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika ilmu jauh dari rasa takut akan menjadi penyebab datangnya bencana.
Akhirnya bahwa hakikat ilmu dalam kitab Tajul Arusy bersifat ilahiyah, segala sesuatu selalu dihubungkan secara transendental. Hal ini menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mengenal Allah hingga menimbulkan rasa takut pada Allah yang Maha Agung. Tujuan dari pencarian ilmu adalah semata-mata untuk mengenal Allah. Ketika kesadaran makrokosmos terbentuk, maka secara mudah seorang hamba akan memiliki kesadaran mikrokosmos yang baik. Allah sebagai Khaliq menjadi tujuan dan pusat segalanya, maka panca indra yang dimiliki manusia digunakan untuk menghayati pesan-pesan ilahi. Kemampuan ini akan tercipta dengan kemampuan melawan hawa nafsu. Godaan bagi seorang penuntut ilmu Allah adalah hawa nafsunya sendiri. Maka perintah untuk mengosongkan hati dari selain Allah menjadi bagian yang patut diperjuangkan. Jika manusia mampu menyingkirkan makhluk dari hatinya, maka ilmu Allah akan bersemayam dalam sanubarinya. Dalam pencarian ilmu diutamakan substansinya dengan tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran syariah. Hal ini ditujukan untuk dapat meraih taufiq Allah sebagai obyek paling berharga dalam proses pencarian ilmu yang sesungguhnya.  

Comments