#NgajiSufi
#NgajiSufi, 27/06/2020
“Memahami” TAUHID DALAM KITAB IQAZU AL HIMAM IBN AJIBAH AL HASANI
By: Aab Safik
Pangeran Sufi Al Imam Junaid bin Muhammad – rahimahullah – ditanya
tentang kaum Sufi, “Siapa mereka?” Ia menjawab, “Mereka adalah kaum pilihan
Allah dari makhluk-Nya yang Dia sembunylkan tatkala Dia menyukai dan Dia
tampakkan tatkala Dia menyukai pula.”
“Tauhid adalah menunggalkan Yang Maha Dahulu (Qidam) dari yang
datang kemudian (huduts).”
Al-Junaid rahimahullah ketika ditanya tentang Tauhid mengatakan,
“Tauhid adalah pengesaan seorang muwahhid (yang manunggal dengan Allah) dalam
merealisasikan Wahdaniyyah-Nya dengan kemahasempurnaan Ahadiyyah-Nya. Dimana
Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan,
dengan meniadakan segala persamaan, sepadan, serupa dan berbagai bentuk
peribadatan (penghambaan) kepada selain Dia. Tuhan Yang tidak bisa diserupakan,
dikondisikan dengan bagai¬mana, digambarakan dan tidak pula dapat dimisalkan.
Tuhan Yang Maha Esa, Mahakekal, Mahatunggal Yang tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Al-Junayd mengatakan, “Tauhid adalah ilmu Anda, dan ikrar Anda
bahwa sesungguhnya Allah swt. adalah Tunggal dalam Azali-Nya, tak ada dua-Nya,
dan tak sesuatu pun yang mengerjakan pekerjaan-Nya.”
Dikatakan oleh al-Junayd, bahwa sebagian ulama bertanya soal
tauhid. Kemudian dijawab al-Junayd, “Tauhid adalah keyakinan.”
“Jelaskan padaku, apa tauhid itu?” demikian kata si penanya.
“Tauhid adalah ma’rifat Anda, bahwa segala gerak makhluk dan diamnya merupakan
pekerjaan Allah swt, Dia Maha Esa tidak berkawan. Apabila anda sudah
berpandangan demikian, nda telah menauhidkan_Nya,” jawab Junayd.
Al-Junaid ditanya lagi tentang Tauhid. Maka ia menjawab, “Tauhid
adalah suatu makna, dimana berbagai gambaran hilang di dalamnya, dan berbagai
ilmu pun musnah di dalamnya. Sedang¬kan Allah swt. akan senantiasa Eksis dan
tidak pernah lenyap.”
Al Junaid ditanya tentang Tauhid orang-orang khusus (khas), ia
menjawab, “Adalah dimana seorang hamba hanya merupakan bayangan yang tak bisa
berbuat apa-apa di hadapan Allah Azza wa Jalla, dimana perbuatan-perbuatan
Allah dan segala yang diaturnya berlaku padanya sesuai dengan aturan-aturan
hukum dan Ke¬kuasaan-Nya, dalam kedalaman samudra Tauhid-Nya, dengan fana
(sirna) dari dirinya, doa orang lain (makhluk) untuknya dan pemenuhan terhadap
hakikat-hakikat eksistensi Kemahaesaan (Wahdaniyyah)-Nya dalam hakikat
kedekatannya, dengan hilang¬nya rasa dan gerakannya. Karena al-Haq sendiri Yang
menjalankan segala perintah yang diinginkan Nya. Di mana akhir perjalanan
seorang hamba kembali dalam kondisinya yang pertama. Sehingga pada saat ini ia
seperti sebelum ia ada.”
Al-Junaid juga berkata, “Tauhid adalah keluar dari kesempitan
bentuk-bentuk temporal menuju ke hamparan luas keabadian dan kekekalan.”
Jika ada orang bertanya, Apa makna pendapat al Junaid yang
mengatakan, ‘Di mana akhir perjalanan seorang hamba kembali dalam kondisinya
yang pertama. Sehingga pada saat ini ia seperti sebelum ia ada’.” Maka
jawabannya adalah sebagaimana yang difirmankan Allah Azza wajalla:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi (tulang rusuk) mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’Mereka menjawab,
‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menyaksikani.” (Kami lakukan yang demikian
itu) agar di hari Kiamat, kamu tidak menga¬takan, “Sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan). ” (Q.s. al Nraf 172).
Al-Junaid mengemukakan tentang makna ayat tersebut, “Darimana ia
berada, bagaimana ia berada sebelum saat ini ada? Bukan-kah yang menjawab pada
saat itu adalah ruh-ruh yang memper¬lihatkan Kekuasaan Allah dan melaksanakan
seluruh titah-Nya? Maka keberadaannya sekarang, pada hakikatnya sama seperti
sebelum ia ada. Dan inilah puncak hakikat Tauhid kepada Dzat Yang Maha Tunggal,
yakni hendaknya keberadaan seorang hamba, seperti sebelum ia ada. Sementara
Allah swt. senantiasa ada dan tetap eksis.”
(Sumber: Kitab IQAZUL AL HIMAM: FI SYARKH AL HIKAM: Karya
Syaikh Ahmad Bin Muhammad Ibn Ajibah Al Hasani)

Comments
Post a Comment