#NgajiHikmahNariyahan
#Ngaji Hikmah/ 22/06/2020
Oleh: Aab
Safik
Membaca Shloawat adalah salah satu sebagian system
ajaran Islam, dalam sebagaian besar ritual Islam, penggunaan sholawat juga sebagai
suatu keharusan, kewajiban-kewajiban dalam hal-hal tertentu antara lain dalam
sola ibadah sholat, Haji, khutbah Jumat dll
Penggunaan shalawat bagi sebagian umat Islam telah
menjadi tradisi. Tradisi membaca shalawat Nabi ini banyak terwujud dalam
praktik keagamaan kalangan Islam tradisionalis di Indonesia. Dalam aktivitas
yang terlihat profan sekalipun tak terlepas dari pembacaan shalawat Nabi,
seperti saat menunggu dagangan, bekerja di ladang, menidurkan bayi, bahkan
untuk yang disebut terakhir terdapat keyakinan bahwa bacaan shalawat dapat
menenangkan seorang bayi yang sedang gelisah atau menangis. Tradisi membaca
shalawat Nabi di kalangan Islam tradisionalis Indonesia juga telah ditetapkan
pada saat-saat yang ditentukan. Ketetapan ini sekarang lebih meluas seperti
pada saat menunggu waktu adzan dan iqamat, dengan lafadz bacaan shalawat, baik
yang berbahasa Arab atau yang berbahasa Jawa. Lafal shalawat dalam bahasa Jawa
dikenal dengan syiiran, yang berisi makna bahasa Jawa dari shalawat Nabi atau
syair-syair tentang keagungan Nabi. Adapun pembacaan shalawat Nabi antara adzan
dan iqamat dikenal dengan sebutan puji-pujian.
Menurut Wildhana W (Spiritualitas
Sholawat, UIN Malang Press, 2010), Pengertian
salawat menurut arti
bahasa adalah doa, sedangkan menurut
Istilah, salawat adalah: salawat
Allah kepada Rasulullah, beruparahmat dan kemuliaan (rahmat ta’dhim). Salawatdari malaikat kepada Nabi. Berupa permohonan
rahmat dan kemuliaan kepada Allah. Untuk Nabi
Muhammad, sementara salawatdari selain Nabi berupa permohonan rahmat dan ampunan. Shalawatorang-orang
beriman (manusia dan jin) adalah
permohonan rahmat dan kemuliaan kepada Allah untuk Nabi, seperti Allahumma
salli ‘ala sayyidina Muhammad.
Dengan demikian, sholawat merupakan sebuah pujian, kemuliaan Nabi
Muhammad, yang oleh siapa saja yang membacanya, salah satu sholawat datangnya
dari Allah adalah sebuah Rahmat, Keridhoannya yang di haturkan oleh Allah
kepada sang baginda, solawat yang datangnya dari malaikat adalah sebuah
permohonan rahmat, ampunan, dan jika datangnya dari umatnya adalah sebuah
permohonan rahmat, sanjungan, pengakuann terhadap sang baginda rasul sebagai
sosok manusia yang sempurna yang telah diberikan kewenangan mampun member syafaatnya
di akherat nanti. firman Allah dalam surat al-Ahzab;56
Artinya,
‘’Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bershalawat
untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. ‘’
(Q.S. Al-Ahzab;
56)
Selain
itu, sholawat banyak juga di gunakan oleh kalangan masyarakat Kedung Asem untuk
keperluan dan tradisi tertentu yang dikehendakinya antara lain Tradisi pembacaan Barznaji,
Burdah, Nariyahan, Hadrah Ishari dan al-madaih al
nabawiyah, lebih dikenal dengan pembacaan salawat. Dari sini adalah tradisi bacaan sholawata
Nariyah, salawat Nariyah
yang dibaca masyarakat dipahami
dengan bacaan ritual yang berbeda-beda. Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya perbedaan tujuan
atau maksud dari kegiatan pembacanya.
Untuk hajat untuk kepentingan
duniawi seperti melancarkan rizki, pelaris dagangan, keselamatan desa, perisai
diri dll,
Shalawat Nariyah adalah
Sholawat yang disusun oleh Syeikh Ibrahim
Attaziy Almaghribiy, maka shalawat ini juga
dikenal dengan nama Shalawat
Taziyah Attafrijiyyah. [http://majelisrasulullah.org. Sholawat Nariyah juga
merupakan salah satu amalan
yang disenangi, oleh orang-orang NU.
juga merupakan sebagai dorongan dan
semangat keagamaan, dan bukti cinta kita kepada Rasulullah
Saw sekaligus beribadah.
Selain itu dikalangan warga NU, Shalawat ini juga merupakan cara kita untuk mendekatkan diri
kita kepada Allah Swt, ketika
seseorang menghadapi sebuah
problem yang sulit untuk dipecahkan. [www.http://www.nu.or.id/ (Sumber
KH Munawir Abdul Fattah dipondok
Pesantren Krapyak, Yogyakarta).
Pada hakekatnya membaca sholawat,
merupakan salah satu bentuk dari do’a untuk Nabi Muhammad Saw dan untuk dirinya
sendiri. Dalam hal ini Allah Swt, sudah memberikan sebuah jaminan kepada para
nabi-Nya. Sehingga do’a atau sholawat yang dibacakan kepada Nabi. Salah keistimewaan
sholawat Nariyahan seperti apa yang di sampaikan salah satu santri di PONPES Krepyak
Jogja Imam Dainuri memberikan komentarnya:
Siapa membaca shalawat ini sehabis
shalat (Fardhu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rezekinya tidak akan putus, di samping
mendapatkan pangkat kedudukan
dan tingkatan orang kaya.” [[www.http://www.nu.or.id
Demikian juga halnya dengan Masyarakat Kedung Asem, yang mayoritas
penduduknya Hitrogen, terdiri dari berbagai latar belakang baik dari kalangan
Kyai/ ustad, pejabat, pedagang/ pembisnis, tukang Ojol, guru dan akademisi,
sebagai perkampungan yang berada di pinggir perkotaan Kota Surabaya tentunya
sangat menarik bagi saya, sebab era modernitas dimana era tersebut termasuk
dantara era yang nota bennya masyarakat yang berpendudukan dengan pola hedonistic,
egois, silau akn kehidupan yang serba maniak glamor, akan tetapi masih banyak
pula yang mengikuti bahkan terjun kedalam tradisi rutinitas kalangan tradisi,
seperti kegiatan rutin jamiyah Nariyah, ishari dll,
Kenapa mereka banyak yang begitu minat dalam ritualitas Majlis
Nariyahan yang diadakan oleh NU melalui Takmir Masjid di perkampungan kedung
Asem tersebut ? dikarenakan masyarakat Surabaya saat ini notabennya adalah
masyarakat Kota yang akhir-akhir ini banyak mengalami sebuah kehampaan
spiritual, mengalami Crisis mentality, sehingga diantara mereka yang
haus akan percikan-percikan Nur (cahaya) dalam dirinya, memerlukan pendekatan
kehambaan untuk mengobaati keresahan selama ini yang dialaminya dari berbagai
kpentingan/ keperluan sesuai dengan tujuan mereka masing-masing.
Apa yang harus dicari dari pola
kehidupan umat manusia kali ini hakekatnya adalah guna mencari keselamatan baik
di dunia maupun di akherat kelak amin
Wallahu a’lam bi showab

Comments
Post a Comment