#NgajialHikam 1,
#Ngaji Hikam seri 1. 20/06/2020, aab safik
Seri 1
Apakah Kita Sudah Wushul Pada Allah?
Apakah kita sedang membangun hubungan special dengan Allah swt?
Pertanyaan ini tentu menohok kita. Allah swt menciptakan manusia sebagai
makhgluk special, tetapi manusia tidak pernah membangun hubungan special dengan
Allah Swt kecuali hanya minoritas jumlahnya.
Apakah
anda termasuk kelompok yang minoritas tersebut? Namun sangat special di Mata
Allah swt? Apa indikatornya?
HUBUNGAN
SPESIAL DENGAN ALLAH.
Indikator
hubungan special dengan Allah swt, ada tiga:
Meninggalkan
Ikhtiar.
Dimaksud meninggalkan Ikhtiar di sini adalah seluruh pilihan hidupnya
adalah pilihan Allah swt, bukan pilihan seleranya, bukan disebabkan upayanya,
dan ia pun beraktivitas semata karena diperintah dan diizinkan Allah swt. Ia
telah fana’ pada kehendak dan kekuasaan Allah swt, Yang Maha Tahu dan Maha
Berkehendak memilihkan terbaik bagi dirinya. Andai dia berbisnis, semata karena
menjalankan kehambaan, bukan menentukan hasil dan rejekinya. Bahkan ketika ia
berangkan bisnis misalnya, semata kera diperintah dan diizinkan Allah, menurut
Allah bukan menurut dirinya.
Sirnanya
mengatur.
Hamba Allah yang satu ini tidak ingin mengatur dirinya dan yang
lain. Semuanya merasakan full diatur oleh Allah swt, sehingga hidupnya penuh
syukur ridho tawakkal dan ikhlas serta sabar. Ia sama sekali jauh dari
intervensi terhadap Kehendak dan Takdir Allah swt. Tetapi ia hanya berusaha
mengatur apa yang dituntut oleh Allah swt, pada dirinya, berupa Perintah dna
LaranganNya. Itu pun dengan catatan, tetap dalam posisi memandang bahwa Fadhal
dan Rahmat Allahlah yang menciptakan kebajikan. Mengugugurkan segala hal yang
kita merasa bisa mengatur adalah tindakan utamanya.
Sirnanya
berkehendak.
Hakikat kehendak adalah fana’ dari merasa mampu berkehendak. Karena
yang berhak berkehendak adalah Allah swt yang memiliki sifat Irodah (Maha Berkehendak). Kehendak manusia selalu
dicampuri dengan kepentingan ego dan nafsu, maka serasikan kehendak kita dengan
KehendakNya, dengan cara fana’ dari kehendak kita dan Baqo’ pada KehendakNya.
KehendakNya ada dibalik Perintah dan LaranganNya, dan kita aktivbasikan dengan
hati penuh Ridho dan berserah. Jika Allah menghendaki kita untuk naik derajat
kita, maka Allah menakdirkan kita taat. Sebaliknya jika Allah berkehendak untuk
menyiksa kita, Allah menakdirkan kita maksiat. Ujian kita ada sikap memilih di
wilayah bebas yang nanti kita pertanggungjawabkan di akhirat. Apakah anda lebih
memiliih dikehendaki maksiat atau taat?
(Bersambung)
Comments
Post a Comment