Ngopi: Ngaji Sufi
#Ngaji Tasawuf
Eko-sufisme: Tawaran solusi Ekologis dengan
Tasawuf
Oleh: Aab Safik
Dalam dialektika Ekosistem sebuah khazanah
bagaimana peran manusia sebagai Khalifah di muka bumi sekaligus tanggung jawab dalam
menjaga keindahan kelestarian lingkungan, saya teringat pak Kadir Riyadi guru
besar Tasawuf UIN Sunan Ampel Surabaya, beliau salah satu dosen yang senantiasa
memperhatikan kajian studi ke-Islaman, studi
Antropologi islam, siosolog islam dan terakhir beliau konsen dalam ilmu
Ekologi/ ilmu tentang Lingkungan, yang menarik bagi saya adalah dia selalu
mengkaji apapun menggunakan pendekatan Sufistik, bahkan menjadi satu master
piece dia untuk menjadi Guru Besarnya.
Dari
sini saya menjadi tergugah dengan adanya makalah teman-teman dalam diskusi program
Doktoral siang ini, saya tidak akan membahasa master piece nya prof
Kadir kali ya heee. Tapi saya mencoba mengungah sebuah teori yang selama ini
menjadi sebuah perdebatan dikalangan akademik sehingga menjadikan sebuah gagasan
yang masih belum matang diakalangan masyarakat khsususnya masyrakata akademis,
oleh karena itu pertama dalam teori tersebut adalah teori Antroprosentris
Antroprosentris Teori
ini merupakan teori etika lingkungan hidup yang memandang
manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling
menentukan dalam tatanan ekosistem
dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitannya dengan alam, baik secara langsung atau tidak langsung.
Nilai tertinggi adalah manusia
dan kepentingannya. Hanya manusia yang mempunyai nilai dan mendapat perhatian. Segala sesuatu yang lain
di alam semesta ini hanya akan
mendapat nilai dan perhatian sejauh menunjang demi
kepentingan manusia. Oleh karena
itu, alam pun dilihat hanya sebagai objek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan
kepentingan manusia. Alam hanya alat
bagi pencapaian tujuan manusia dan alam dianggap tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri.
Namun, sejauh ini, teori antroposentrisme dituduh sebagai salah satu penyebab, bahkan penyebab utama
dari krisis lingkungan hidup yang kita alami sekarang, yakni manusia lah
yang menyebabkan krisis lingkungan hidup dengan pandangan Antroprosentris
Kemudian teori Biosentrisme, mengatakan bahwa tidak
benar apabila hanya manusia yang mempunyai
nilai, akan tetapi alam juga mempunyainilai
pada dirinya sendiri yang
terlepas dari kepentingan manusia. Setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga
pada dirinya sendiri, sehingga
semua makhluk pantas mendapat pertimbangan dan kepedulian moral. Alam perlu diperhatikan secara moral, terlepas dari apakah ia bernilai bagi manusia atau tidak. Teori ini, menganggap serius setiap
kehidupan dan makhluk hidup di alam semesta
Adalagi teori Ekosentrisme, diman teori ini dianggap
kelanjutan dari teori Biosentrisme, karena keduanya memiliki kesamaan dasar pandangan. Paradigma ini
menyampaikan pandangannya bahwa
secara ekologis, makluk hidup dan benda-benda
abiotis lainnya saling terkait satu sama lainnya. Kewajiban
dan tanggung jawab moral tidak
hanya dibatasi pada makluk
hidup, tetapi juga berlaku terhadap
semua realitas ekologi.
Dari beberapa teori yang saya unggah diatas, banyak terjadi subyektifitas
dalam mencari sebuah kebenaran ilmiah, entah bagaimana apakah saya harus
menyurvay alih-alih saya coba pakai kacamatanya Syed Hussen Nasr deh nyoba aja
kok. ..
Nasr, seorang tokoh
sufi kontemporer, membangun
etika lingkungan dalam perspektif sufi melalui konsep tauhid. Baginya realitas (wujud) adalah satu. Dunia
nyata adalah satu dari keadaan wujud
yang banyak. Nasr menganalogikan realitas kosmik ini dengan ilustrasi lembaran buku dengan teksnya. Baginya, buku terdiri
lembaran-lembaran yang terdiri
dari huruf-huruf. Huruf adalah
simbol-simbol (tertulis) secara beragam. Walaupun
demikian, simbol huruf-huruf
tersebut berasal dari hakikat
yang satu, yaitu “realitas” yang berasal
dari bunyi napas
yang keluar dari kerongkongan yang sama
Nasr memandang antara al-qur’an
dengan alam semesta (cosmos) memiliki kesamaan wujud. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan dengan berbagai simbol tulisan
dan kata yang terhimpun, sedang
alam adalah wahyu dalam bentuk
kosmik. Alam adalah sebuah buku
yang berisi “wahyu primordial”, dengan demikian, keduanya adalah “kitab suci” Tuhan. Menurut Nasr, pandangan
Islam tentang lingkungan dan
ekosistem didasarkan pada al-Qur’an.
Karena al-Qur’an tidak hanya berbicara kepada laki-laki dan perempuan, tetapi juga kepada alam
(kosmos). Isi (kosmos) seperti
tumbuhan, hewan, matahari, laut, mineral dijadikan
Tuhan sebagai saksi keberadaan-Nya
(alam sebagai teofani Tuhan)
Bagi Nasr, melihat alam dengan mata intelek(mata hati) adalah melihat alam, bukan hanya dipahami sebagai
realitas (wujud) benda kasar, tetapi
sebagai teater (pertunjukan) yang ada pada alam dan teateritu
tercermin sifat-sifat Ilahi. Alam adalah ribuan cermin yang
memantulkan wajah Ilahi.
Melihat alam sebagai teofani
adalah melihat cerminan Tuhan dalam
alam dan betuk-bentuknya.
Wallahu a’lam bisshowab
Comments
Post a Comment