#Ngaji TajulArusy
#Ngaji Tajul Arusy, 19/06/2020
MAHKOTA SANG PENGANTIN
Ibnu ‘Atho’illah as Sakandari Dalam Kitab “Tajul
Árusy”
Oleh: Aab Safik
Kamu tidak akan
termasuk orang yang di telantarkan kecuali sebab kamu meninggalkan mengikuti
Nabi Muhammad saw. Dan kamu tidak akan mendapatkan keluhuran derajat dihadapan
Alloh, kecuali kamu mengikuti Nabi Muhammad saw.
Sedangkan
mengikuti Nabi Muhammad saw itu ada dua macam:
1.Jaliyyah(Terang-terangan)
2.Khofiyyah(Sembunyi/samar).
1. Mengikuti
Nabi secara Terang-terangan itu seperti: sholat, Puasa, zakat, Haji, Jihad dan
lain-lain.
2. Mengikuti
Nabi secara Khofiyah (Samar) yaitu: I’tiqodnya hati menghadap Alloh dalam
sholatmu dan berfikir maknanya dalam membaca Al Qur’an. Jadi jika kamu
mengerjakan ketaatan, seperti sholat dan membaca Al qur’an, akan tetapi kamu
tidak merasa menghadap Alloh dalam sholatmu dan berfikir maknanya dalam membaca
Al Qur’an. Ketahuilah, dalam dirimu itu ada penyakit yang tersembunyi(samar)
yaitu penyakit takabur(sombong) atau ‘Ujub (membanggakan amalnya sendiri) atau
penyakit-penyakit lainnya.
Alloh ta’ala
telah berfirman yang artinya: “Aku akan membelokkan(menjauhkan) dari
ayat-ayatKu atas orang-orang yang sombong dimuka bumi ini yang tidak punya
hak(sombong)”. Jadi perumpamaan dirimu itu seperti orang yang sedang sakit
panas, yang merasakan pahitnya gula. (padahal gula itu manis rasanya).
Maksiat yang
menyebabkan rasa hina dan mengharapkan rahmat dari Alloh itu lebih baik
daripada ketaatan yang menjadikan rasa agung dan sombong dalam hati. Alloh
ta’ala telah berfirman yang menceritaka tentang Nabi Ibrahim ‘alaihi nabiyyina Muhammad afdhalus shalah wasallam, yang artinya:
“Siapa saja orang yang mengikuti aku, orang itu menjadi bagian dari
golonganku.” Pemahaman ayat ini, barang siapa yang mau mengikuti nabi Ibrahim,
maka orang tersebut menjadi bagian dari golongannya Nabi Ibrahim.
Alloh ta’ala
juga berfirman yang menceritakan Nabi Nuh alaihi wa ‘ala nabiyyinal musthofa
azkas sholati wasallam, yang artinya: “ Sungguh anak lelaki ini sebagian dari
keluargaku”. Lalu Alloh menjawab dengan firmannya: “ Alloh ta’ala berfirman Hai
Nuh! Sesungguhnya dia(kan’an) itu bukan bagian dari keluargamu. Karena dia
memiliki amalan yang tidak baik”.
Jadi yang di
namakan mengikuti yaitu menjadikan orang yang mengikuti seperti bagian dari
orang yang di ikuti. Walaupun yang diikuti orang lain. Seperti contoh sahabat
Salman al farisi ra. Karena Nabi telah bersabda, : “Salman itu bagian dari
keluargaku”. Sudah maklum bawa Sahabat Salman itu orang faris, akan tetapi
sebab dia mengikuti Nabi. Nabi Muhammad bersabda tentang pribadi Salman, karena
untuk mengajari umatnya, Bahwa mengikuti itu menyebabkan bertemu dan tidak
mengikuti/ingkar itu menyebabkan perpisahan.
Alloh ta’ala
sudah mengumpulkan semua kebaikan itu ada didalam rumah. Dan Alloh menjadikan
kuncinya rumah itu berupa mengikuti Nabi Muhammad saw, maka dari itu
berusahalah kamu untuk mengikuti Nabi saw. Dengan berqona’ah dari rizki yang
diberikan Alloh kepadamu, zuhud, mengambil sedikit dari dunia, dan meninggalkan
ucapan atau pekerjaan yang tidak berguna.
Siapa saja yang
suadh dibukakan pintu mengikuti Nabi Muhammad saw. Itu menunjukkan orang
tersebut dicintai oleh Alloh. Sebab Alloh telah berfirman: (Hai Muhammad)
katakanlah, apabila kamu semua benar-benar cinta kepada Alloh, maka ikutilah
aku, Alloh akan mencintaimu”.
Apabila kamu
mencari kebaikan secara keseluruhan maka berdo’alah kepada Alloh, “Ya Alloh,
Sungguh aku meminta kepadaMu Supaya aku bisa mengikuti utusanMu pada semua
ucapan dan perbuatannya.
Dan siapa saja
yang ingin mengikuti Rosulullah saw. Dia harus meninggalkan perbuatan dholim
pada semua hamba Alloh, baik dholim pada kehormatan ataupun nasabnya. Karena
apabila manusia itu terbebas dari perbuatan dholim antara satu orang dengan
lainnya, tentu bisa langsung berangkat menuju Alloh. Akan tetapi manusia itu
dihalag-halangi dengan perbuatan aniaya/dholimnya. Seperti orang yang mempunyai
banyak hutang dan di tagih oleh orang yang dihutangi.
Ketahuilah!
Seumpama kamu orang yang istimewa dan didekat sang raja, lalu ada orang yang
menagih hutang kepadamu, maka kamu pasti merasa Susah(sumpek) walaupun hutang
tersebut hanya sedikit, lalu bagaimana keadaanmu bila sudah datang hari kiamat,
sedangkan kamu dituntut oleh seratus ribu orangatau lebih, yang datang menagih
hutang yang macam-macam. Ada yang meminta harta tanpa hak, merusak kehormatan
dan lain-lain. Kalau seperti itu bagaimana tingkah/keadaanmu?
Orang yang
terkena musibah yang sebenarnya yaitu orang yang dirusak oleh dosa-dosanya
sendiri dan dirusak oleh kesenangan nafsunya. Sehingga dirinya menjadi tempat
yang rusak yang tidak ada harganya.
Orng seperti
inilah orang yang terkena musibah yang perlu ditakziyahi. Karena dia sudah
kehabisan makanan dan kehilangan syahwatnya. Perlu untuk memenuhi wc dan
menyenangkan istrinya, sukur-sukur makanannya dari barang halal
Siapa yang
sungguh-sungguh bertaubat, akan mendapatkan cinta Alloh ta’ala
Ketahuilah,
permulaan maqom-maqom itu adalah Taubat. Dan maqom setelahnya tidak akan
diterima kecuali dengan taubat.
Perumpamaan
orang yang maksiat itu seperti periuk/kuali yang masih baru dan dibawahnya
dinyalakan api, sebentar saja kuali tersebut akan jadi hitam, apabila kamu
segera mencucinya, maka kuali akan bersih kembali. Akan tetapi bila kau
biarkan, dank au gunakan memasak berkali-kali, maka hitamnya akan semakin
menempel. Dan semakin sulit dan akan pecah dan tidak akan berguna dila kau
cuci. Maka dari itu Taubat merupakan perkara yang bisa membersihkan hitamnya
hati. Apabila hati sudah bersih lalu akan muncul macam-macam amal baik, yang
bau wanginya akan diterima oleh Alloh ta’ala.
Hai orang baik,
Berusahalah mencari taubat dari Alloh ta’ala secara terus menerus. Sungguh
apabila kamu bisa mendapatkan taubat maka waktumu pasti akan menjadi baik,
karena taubat itu salahsatu anugerah pemberian Alloh yang diberikan kepada
siapa saja yang dikehendaki Alloh ta’ala.
Taubat ini terkadang dihasilkan oleh para budak yang pecah mata kakinya,
tidak dihasilkan oleh tuannya. Terkadang
dihasilkan oleh istri perempuan, tidak dihasilkan oleh suami laki-laki.
Terkadan dihasilkan oleh pemuda, tidak dihasilkan oleh orang tua. Jadi apabila
kamu diberi anugerah taubat, itu menunjukkan kamu dicintai oleh Alloh. Karena Alloh ta’ala telah berfirman yang
artinya: ”Sesungguhnya Alloh ta’ala itu cinta pada orang-orang yang bertaubat
dari dosa, dan cinta pada orang-orang yang bersesuci dari kotoran”.
Sesungguhnya
tidak ada orang yang menginginkan sesuatu, kecuali dia mengetahui kedudukan
sesuatu tersebut. Walaupun kamu menebar yaqut/berlian didepan hewan, pastilah
gandum yang lebih di senangi dibandikan yaqut tadi.
Coba fikirkan! kamu termasuk yang mana dari
dua golongan ini? Yaitu: Apabila kamu mau bertaubat maka kamu termasuk orang
yang dicintai, bila kamu tidak mau bertaubat, kamu termasuk orang-orang yang
dholim pada dirinya.
Alloh ta’ala telah berfirman: Siapa saja yang tidak mau bertaubat, mereka termasuk orang-orang yang dholim”. Siapa saja yang bertaubat pasti beruntung, dan siapa saja tidak mau bertaubat pasti akan rugi.
Hai orang baik,
jangan kamu putus asa, lalu mengucapkan “berkali-kali aku bertaubat, aku akan
rusak/binasa juga. Jangan begitu.. sebab orang yang sakit, masih akan berharap
hidup selagi masih ada ruhdalam dirinya.
Tatkala seorang
hamba mau bertaubat, surge yang menjdi tempatnya akan merasa senang, langit dan
bumi juga senang, Rosululloh saw juga senang. Al haq Alloh swt itu tidak ridho
bila kamu menjadi orang yang cinta, tapi Alloh ridho kalau kamu menjadi orang
yang dicintai. Maka dimanakah kedudukan orang yang dikasihi dan orang yang
mengasihi? Sangat tercela seorang hamba yang mengetahui kebaikan Dzat yang
memberi kebaikan pada dirinya, lalu dia berani maksiat/durhaka kepada Dzat yang
memberi kebaikan.
Orang yang
maksiat tidak akan mengtahui kebaikan Dzat yang memberi kebaikan. Dan tidak
akan tahu kedudukan dzat yang memberi kebaikan, apabila dia tidak mau
meneliti(ngawasi) Dzat yang memberi kebaikan.
Orang yang
sibuk pada selain Alloh dia tidak akan beruntung. Orang yang mengerti kalau
nafsu itu mengajak pada kerusakan akan tetapi dia masih mau mengikuti
ajakannya, mengerti kalau hati itu mengajak kepada kebaikan/kebenaran tapi dia
mengingkari ajakannya, dan mengerti kedudukan tuhan yang dimaksiati/durhakai,
tapi tetap juga maksiat.
Seumpama orang
itu tahu persifatan Tuhan yang didurhakai dengan sifat AgungNya, tentu dia
tidak akan menghadapinya dengan melakukan maksiat. Seumpama dia tahu dekatnya
Tuhan dan dia selalu di awasi, tentu dia tidak akan berani melanggar semua yang
sudah dilarang oleh Tuhannya. Seumpama
orang itu tahu bekas dari dosa baik yang ada di dunia maupun diakhirat baik
dalam keadaan tersembunyi maupun nyata, tentu orang tersebut malu pada
Tuhannya. Dan seumpama orang itu tahu kalau dirinya dalam genggaman (kekuasaan)
Tuhannya, tentu orang itu tidak akan berani mengingkarinya.
Bekas maksiat
secara lahir dan Batin
Ketahuilah
bahwa maksiat itu mengandung arti merusak janji, dan melepaskan ikatan cinta
dengan mengalahkan Tuannya (Alloh) dan mengikuti kesenangan hawa nafsunya,
melepaskan tutupnya rasa malu, dan cepat cepat menuju Alloh dengan mengerjakan
perkara yang tidak diridhoi oleh Alloh.
Selain itu semua:
Bekas maksiat
yang dhohir/nyata seperti: pada diri orang yang maksiat terlihat suram,
dimatanya kelihatan keras, malas berkhidmat kepada Alloh, tidak bisa menjaga
kehormatan, berusaha keras menuruti keinginan hawa nafsunya, dan tidak bisa mengerjakan ketaatan.\
Bekas maksiat
yang batin seperti: kerasnya hati, memenuhi dadanya dengan syahwat, hilangnya
rasa manis/nikmatnya taat, banyaknya penghalang dari makhluk yang selalu
menghalangi terpancarnya Nur, selalu dikalahkan oleh kekuasaan hawa nafsu, dan
selain itu semua masih ada seperti hati selalu ragu-ragu, lupa kalau nanti kan
kembali menghadap Alloh, dan lamanya penghitungan amal.
Sudah cukup menunjukkan jeleknya maksiat
dengan bergantinya nama, karena bila kamu menjadi orang yang taat, kamu disebut
orang yang mengerjakan kebaikan, sedangkan bila kamu maksiat, maka akan berubah
dan disebut orang durhaka. Itulah artinya berpindahnya sebutan/nama. Lalu
bagaimana kalau yang berganti itu atsar/labet?, yaitu dari atsar rasa manisnya
taat berubah menjadi manisnya maksiat.
Atsar nikmatnya
mengabdi kepada Alloh berganti menjadi nikmatnya syahwat. Begitulah bergantinya
atsar, lalu bagaimana kalau yang berubah/berganti itu sifat? Yaitu setelah kamu
memiliki sifat yang baik dihadapan Alloh
ta’ala, lalu berganti menjadi orang yang memiliki sifat yang buruk. Itu
yang berhubungan dengan pergantian sifat, lalu bagaimana kalau yang berubah itu
kedudukan?, yaitu setelah kamu menjadi orang yang sholih/baik dihadapan Alloh,
lalu menjadi orang yang rusak dihadapan Alloh, setelah kamu menjadi orang yang
berhati-hati dihadapan Alloh berubah menjadi orang yang ingkar dan khianat
kepada-Nya.
Maka apabila
macam-macamnya dosa itu sudah terbuka dihadapanmu, maka segeralah minta
pertolongan kepada Alloh ta’ala, dan mengungsilah kapada-Nya dan taburi tanah
dikepalamu(merasa hina) dan berdo’a: “Ya Alloh, pindahlah kami dari hinanya
maksiat menuju kemuliaannya taat kepada-Mu”.Dan berusahalah kamu untuk bisa
berziarah kemakam-makam para Auliya’ dan sholihin, dan bacalah “Yaa
Arhamar-roohimiin” (Wahai Dzat yang sangat belas kasih, belaskasihi kami).
Apakah kamu
termasuk orang yang ingin memerangi nafsumu? Sedang nafsumu kamu kuatkan dengan
menuruti kesenangannya(syahwat). Sehingga kamu dikalahkan nafsumu. ketahuilah,
sungguh kamu termasuk orang yang bodoh.
Hati itu
seperti pohon yang disirami dengan ketaatan. Dan buahnya yaitu apa-apa yang
menempel pada pohon tersebut.
Mata, buahnya
bisa mengambil I’tibar/contoh(tepotulodo).
Telinga,
buahnya bisa mendengarkan Al Qur’an.
Mulut, buahnya
bisa berdzikir kepada Alloh.
Kedua tangan
dan kaki, buahnya bisa berjalan menuju kebaikan.
Jadi apabila
hati kering, maka akan rontok buah-buahnya. Apabila hatimu kering maka
perbanyaklah dzikir kepada Alloh.
Kamu jangan
seperti orang yang sakit dan berkata, “aku tidak akan berobat sehingga ada
obatnya.” Maka katakan padanya, “kamu tidak akan menemukan obat/sembuh kalau
kamu tidak mau berobat”.
Dalam
jihad/perang itu tidak ada rasa manis/enaknya, yang ada hanya ujungnya
tombak. Maka dari itu perangilah hawa
nafsumu, itu termasuk perang yang besar.
Ada sebagian
ulama yang selama empat puluh tahun tidak pernah mengikuti sholat berjamaah,
karena merasa tidak kuat mencium bau busuk(tidak enak)nya hati orang-orang yang
lupa kepada Alloh.
Sungguh
mengherankan! Kamu mengerti perkara yang menjadikan kebaikan duniamu, tapi kamu
bodoh tentang perkara yang menjadikan kebaikan akhiratmu. Contoh sifat dunia
pada dirimu itu seperti seorang yang keluar menuju pekarangannya, dan giat
bekerja. Setelah berhasil lalu ditimbun menjadi bahan makanan, lalu dia
mendapat manfaat dari bahan yang ditimbun pada waktu dibutuhkan.
Sedangkan kamu
menimbun syahwat/keinginan nafsumu yang seperti ular dan maksiatmu yang seperti
kalajengking, sehingga kamu menjadi rusak/binasa. Itu cukup menunjukkan
kebodohanmu. Para manusia menyimpan bahan makanan untuk persiapan diwaktu
butuhnya, sedang kamu menyimpan perkara yang menjadikan bahaya dirimu yaitu
maksiat.
Bagaimana
pendapatmu, ada orang yang datang membawa ular dan dipelihara didalam
dirumahnya. Dan ketahuilah, kamu itu yang mengerjakan seperti itu
.
Jangan
sepelekan Dosa-dosa Kecil
Perkara yang
paling dikhawatirkan bahayanya bagi dirimu, yaitu menyepelekan dosa-dosa yang
kecil. Karena dosa besar terkadang kau anggap besar lalu kamu cepat bertaubat.
Sedangkan kamu menganggap remeh dosa kecil, sehingga kamu tidak mau bertaubat.
Jadi
perumpamaan kamu itu seperti orang yang bertemu dengan seekor harimau yang
besar, lalu diselamatkan oleh Alloh, lalu ketemu dengan lima puluh harimau yang
kecil-kecil, kamu bisa dikalahkan. Alloh ta’ala berfirman,: “Dan kamu semua
menganggap remeh pada satu perkara, padahal menurut Alloh itu perkara yang
besar”.
Dosa besar itu
ketika memandang sifat lomannya Alloh itu menjadi dosa kecil, akantetapi dosa
kecil apabila terus menerus dikerjakan akan menjadi dosa besar. Karena racun
sedikit itu bisa juga membunuh manusia. Dosa kecil itu ibarat percikann api,
dan percikan api itu terkadang bisa membakar satu Negara.
Siapa saja yang
mengifakkan/menggunakan keselamatannya dari balak dan kesehatannya pada perkara
maksiat kepada Alloh, itu seperti orang yang ditinggali harta warisan orang
tuanya seribu dinar, lalu dibelikan ular dan kalajengking, di ditaruh disebelah
tubuhnya, sebentar-sebentar di patuk ular dan sebentar-sebentar di sengat kalajengking,
apa kira-kira orang tersebut tidak mati?
Waktumu sudah
ditentukan untuk mengingkari Alloh. Perumpamaan dirimu itu seperti burung
rajawali yang terbang berputar-putar diatas bangkai, ketika tahu ada bangkai,
burung itu turun dan memakan bangkai tersebut.
Kamu
berusahalah menjadi seperti lebah madu, walaupun kecil tubuhnya, tapi besar
cita-citanya, lebah senang dengan bunga-bunga dan dijadikan sesuatu yang enak
dimakan yaitu madu.
Kamu sudah lama
bergelimangan ditempat becana, maka dari itu berusahalah menepel/bergelimangan
kepada orang yang dicintai Alloh azza wa jalla.
Sebenarnya
haqiqat telah menjelaskan jalanmu, namun orang itu dibunuh oleh sifat lupa.
Cobaan apa saja tidak akan bisa mengembalikan orang itu pada haqiqat. Karena
wanita yang kurang akalnya akan tertawa ketika ditinggal mati anaknya.
Begitu juga
kamu mendapatkan ujian/bencana dari beribadah dimalam hari, dan puasa disiang
hari. Dan seluruh tubuhmu tidak merasakan sakit, itu disebabkan karena sifat
lupa telah mematikan hatimu.
Karena orang
yang hidup itu akan merasa sakit bila tertusuk jarum. Sedang orang yang mati
tidak akan merasa sakit walaupun ditebas dengan pedang. Jadi kalau begitu kamu
termasuk orang yang mati hatinya.
Duduklah kamu
dimajlis hikmah/ilmu. Karena dimajlis itu ada bau harum dari harumnya bau
surga, yang bisa kamu temukan dijalanmu, tempatmu dan dirumahmu.
Jangan sampai
kamu ketinggalan majlis ilmu, walaupun kamu masih maksiat. Jangan sampai kamu berkata:
“tidak ada faidah/gunanya aku datang ke majlis ilmu, sedang aku masih
bermaksiat, dan aku belum bisa meninggalkan maksiat”. Akan tetapi orang yang
berburu itu tetap meleparkan alat buruannya, walaupun hari ini belum dapat
buruan, besok hari akan dapat buruan.
Ketahuilah hai
orang baik!, takutlah kamu pada maksiat, terkadang maksiat bisa menghentikan
rizki. Jadi kamu harus selalu mencari taubat kepada Alloh. Apabila taubatmu
diterima kamu termasok orang yang beruntung, apabila taubatmu tidak diterima,
maka mintalah pertolongan kepada Alloh. Dan bacalah”
“Ya Tuhan kami
telah melakukan kedholiman pada diri kami sendiri, kalaulah Tuan tidak
mengampuni kami, dan tidak belas kasih kepada kami, tentu kami termasuk
orang-orang yang rugi”.
Janganlah kamu
seperti orang yang sudah berumur empat puluh tahun, tapi sekalipun dia belum
pernah mengetuk pintu Alloh.
Comments
Post a Comment