Ngaji Hikam, 16/06/2020


KITAB AL HIKAM: KONTRUKSI NILAI-NILAI TASAWUF  DALAM
PENDIDIKAN ISLAM
Oleh: Aab Safik

Kitab ini dikenali juga dengan nama al-Hikam al-Ata’illah untuk membedakannya daripada kitab-kitab lain yang juga berjudul Hikam. Syekh Ibnu Atha’illah menghadirkan Kitab Al-Hikam dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya.
Kitab Al-Hikam merupakan ciri khas pemikiran Ibnu Atha’illah, khususnya dalam paradigma tasawuf3. Di antara para tokoh sufi yang lain seperti Al-Hallaj, Ibnul Arabi, Abu Husen An-Nuri, dan para tokoh sufisme falsafi yang lainnya, kedudukan pemikiran Ibnu Atha’illah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi. Tetapi diimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk, artinya di antara syari’at, tarikat dan hakikat ditempuh dengan cara metodis. Corak Pemikiran Ibnu Atha’illah dalam bidang tasawuf sangat berbeda dengan para tokoh sufi lainnya. Ia lebih menekankan nilai tasawuf pada ma’rifat.
Kitab Al-Hikam adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap realitas dunia yang terjadi saat ini. Di era globalisasi seperti sekarang, kita tidak bisa lepas dari pergaulan global yang keras, saling sikut sana-sini. Dan dunia, yang konon dapat menjauhkan diri dari Tuhan, oleh sebagian orang (terutama dari kalangan sufi), sebisa mungkin untuk dijauhi dan ditinggalkan, yakni dengan melakukan suluk zuhud (meninggalkan dunia). Namun, disatu sisi, masyarakat kita dituntut agar mampu bersaing di ranah kancah dunia. Umat Islam selama ini jauh tertinggal dari umat-umat yang lain, dengan alasan melakukan zuhud tadi. Hatinya tidak ingin tercampur dengan urusan duniawi. Dunia yang dapat melengahkan dan memperbudak manusia. Namun, bagi Ibnu ‘Atha’illah, profesi dan mencari dunia (sandang, pangan, dan papan) itu penting. Sebagai kendaraan (washilah) untuk menuju rasa syukur kepada Allah. Pemahaman-pemahaman seperti inilah yang perlu diluruskan, supaya umat Islam tidak gagal paham, kemudian mengasingkan diri sepenuhya kepada dunia.
Syeikh Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari (w. 1309 hidup di Mesir di masa kekuasaan Dinasti Mameluk. Ia lahir di kota Alexandria (Iskandariyah), lalu pindah ke Kairo. Julukan Al-Iskandari atau As-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu. Di kota inilah ia menghabiskan hidupnya dengan mengajar fikih mazhab Imam Maliki di berbagai lembaga intelektual, antara lain Masjid Al-Azhar. Di waktu yang sama dia juga dikenal luas di bidang tasawuf sebagai seorang “master” (syeikh) besar ketiga di lingkungan tarekat sufi Syadziliyah ini. Sejak kecil, Ibnu ‘Atha’illah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syekh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili. Tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya. Meliputi bidang tasawuf, tafsir, aqidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu yang paling terkenal adalah kitab al-Hikam. Buku ini disebut-sebut sebagai magnum opusnya. Kitab itu sudah beberapa kali disyarah. Antara lain oleh Muhammad bin Ibrahim ibn Ibad ar Rundi, Syaikh Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibn Ajiba.
Kitab Syarah Al- Hikam ini begitu terang dalam melakukan terjemahan ke teks bahasa Indonesia. Selain itu, buku ini juga menyertakan teks asli dari tulisan Mbah Sholeh Darat (Arab Pegon), sehingga pembaca yang menguasai Jawa Arab Pegon bisa langsung melakukan kroscek apa dan bagaimana kalam yang telah Mbah Sholeh tafsiri. Karena bisa jadi hasil terjemah tidak sesuai ketika kita merujuk langsung kepada redaksi aslinya.
Kitab Syarah Al-Hikam yang disyarahi Mbah Sholeh Darat ini menjadi salah satu bacaan wajib bagi siapapun, terutama yang ingin mendalami secara lebih kajian-kajian tentang tasawuf, baik yang falsafi maupun amali. Karena di dalamnya begitu terang—baik secara eksplisit—menjelaskan tahapan-tahapan mengenai syari’at, tarekat, dan hakikat. Sehingga kalangan awam dapat mencernanya dengan baik.
Salah satu contoh kajian tasawuf, pada hikmah pertama, sebagaimana yang disusun Ibnu ‘Atha’illah menyebutkan, min ‘alamaatil i’timaadi ‘ala al-‘amal, nuqshonu ar-Raja’ ‘inda wujuudi al-zalal” (diantara tanda-tanda bahwa seseorang bertumpu pada kekuatan amal usahanya ialah kurangnya pengharapan (terhadap rahmat anugerah Allah) ketika terjadi padanya suatu kesalahan atau dosa). Menariknya, Mbah Sholeh Darat memberikan beberapa contoh, misalnya. Bahwa amal kita di dunia ini tidak akan mampu menjamin keselamatan seseorang. Karena baik iman ataupun kufur, masuk surga atau masuk neraka, itu semua berkat fadhal (karunia) dan keadilan Allah Swt semata.

Kontruksi Nilai Tasawuf dalam pendidikan Islam
Cuplikan dalam kitab al Hikam




Ciri-ciri bersandar kepada amal (perbuatan) adalah berkurangannya harapan (suasana hati) 
tatkala terjadi kesalahan pada perbuatan tersebut.

Imam Ibnu Athaillah mengawali Kalam Hikmat beliau dengan mengajak kita merenung kepada hakikat amal. Amal dibagi kepada dua jenis yaitu amaliah fisik dan amaliah bathin (hati). Beberapa orang melakukan amaliah fisik tetapi hati tidak tersambung dengan perbuatan zahir itu. Jika hati dipengaruhi oleh amalan hati, maka hati itu dikatakan bersandar juga kepada amal. Hati yang tidak bersandar kepada amaliah fisik adalah hati yang menghadap kepada Allah SWT dan menyerah sepenuhnya kepada Allah SWT tanpa adanya tuntutan. Hati yang demikian tidak menjadikan amal sebagai alat untuk tawar menawar dengan Tuhan dalam mendapatkan sesuatu. Amalan tidak menjadi perantara antara orang tersebut dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak membatasi kekuasaan dan kemurahan Tuhan untuk tunduk kepada perbuatan manusia. Allah SWT Yang Maha Berdiri Dengan Sendiri berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi oleh siapapun.
Apa saja yang berkaitan dengan Allah SWT adalah mutlak, tidak ada batas. Oleh karena itu orang arif tidak menjadikan amalan sebagai alat yang mengintervensi ketuhanan Allah SWT atau ‘memaksa’ Allah SWT berbuat sesuatu menurut perbuatan makhluk. Perbuatan Allah SWT berada di hadapan dan perbuatan makhluk di belakang. Tidak pernah terjadi Allah SWT mengikuti perkataan dan perbuatan seseorang atau sesuatu. Allah SWT menjadikan sistem sebab akibat yang teratur adalah untuk memudahkan manusia merencanakan kehidupan mereka di dunia ini. Kekuatan akal dan pancaindera manusia mampu mengungkapkan kehidupan yang berkaitan dengan hukum sebab akibat. Hasil dari penelitian dan kajian akal itulah lahir berbagai jenis ilmu tentang alam dan kehidupan, seperti ilmu sains, astronomi, kedokteran, teknologi dan sebagainya. Semua jenis ilmu itu dibentuk berdasarkan perjalanan hukum sebab-akibat. Keteraturan sistem sebab akibat menjadikan manusia terikat dengan hukum sebab-akibat. Manusia bergantung kepada amal (sebab) dalam mendapatkan hasil (akibat). Manusia yang mementingkan sebab dalam menentukan akibat serta bersandar dengannya dinamakan ahli asbab.
Wal hasil, Kitab Al-Hikam sudah tidak asing lagi di telinga umat Islam karena kitab karangan Syekh Ibnu 'Atha'illah al-Iskandary itu merupakan karya monumental yang telah memancarkan keindahan spiritualitas dalam agama Islam. Di kalangan para santri, kitab ini telah sangat dikenal, bahkan ada yang menyebut kefenomenalan kitab ini setara dengan karya besar Imam Al-Ghazali, yaitu Ihya Ulumuddin. Hikmah dan nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya bukan saja enak diresapi, melainkan juga kaya makna. Sejak dituliskannya pada 1868, sudah puluhan ulama yang turut andil dalam memberikan penjelasan, komentar, dan catatan perinci tentang kitab klasik ini.12 Salah satu ulama yang mencoba memberikan penjelasan terhadap kitab fenomenal ini adalah KH Sholeh Darat.
Wallahu alam bi al showab

Comments