ngaji alMunqiz


#Ngaji AlMunqiz Min Al Dhalal

Epistemologi Teori Pengetahuan al Ghozali
Oleh: Aab Safik
kalau kita perhatikan gunung seolah-olah gunung itu dekat dan kelihatan besar dalam padangan kita, namun kalau kita telusuri untuk mendekatinya justru gunung itu Nampak jauh dan semakin jauh, Kalau kita perhatikan air laut itu biru, sesungguhnya tidak biru, saat kita benar-benar melihat dari dekat dan menyentuhnya, birunya laut adalah bentuk refleksi dan interaksi antara cahaya dan materi yang memberikan trik tersendiri dalam padangan kita. Inilah yang disebut bahwa apa yang kita tahu dan yang dilihat bisa saja bukan kebenaran sesungguhnya.
Pada tahun 1999. Pernah saya mengikuti kitab al Munqid Min al Dhalal, saat saya masih nyantri di Pesantren Tambak Beras, yang mana kitab tersebut dibaca ngaji pasanan/ Kilatan tiap Ramadhan oleh Yai Jamal, banyak beliau mengkaji kitab-kitab klasik yang berbobot menurut saya sih, seperti halnya karya al Ghozali yang lain yaitu Ihya’ Ulumuddin, al Kimya’, Bidayatul Hidayah dan masih banyak karya kitab ulama lain, memang beliau selalu cenderung kedalam ilmu Tasawuf, ilmu Kalam dan ilmu Fiqih selama ngaji pasanan disana.
Di Dalam al Munqiz Min al Dhalal ini, kitab yang membuka ruang pencerahan baru bagi saya untuk menyelami alam fikir seorang Imam Al Ghazali dan ditulis dengan narasi orang pertama yang ketika kita membacanya terasa seperti menyimak sebuah jurnal atau buku harian perjalanan spiritual dengan segala pergolakan pemikiran, emosi dan eksplorasi daya kritis beliau. Kitab tersebut, menggambarkan perjalanan Imam Al Ghazali dalam menyelami ilmu di mana di titik puncak keilmuannya, beliau mulai mempertanyakan hakikat kebenaran. Salah satu langkah awalnya adala dimana al Ghozali menganalogikan sebuah bintang-bintang di langit yang terlihat kecil, sejatinya adalah planet-planet yang ukurannya lebih besar dari bumi. Imam Al Ghazali mencoba untuk memperkenalkan arti dari pengetahuan dan kebenaran. Pengetahuan adalah persepsi manusia akan kebenaran bukan berarti kebenaran itu sendiri.
Imam Al Ghazali di tengah popularitas keilmuan sebagai seorang akademisi sekaligus qady yang buku-buku dan pandangannya sangat populer, mengalami “kegundahan” akan hakikat ilmu dan kebenaran yang mengantarkannya pada situasi yang mempengaruhi alam fikir dan fisik beliau. Beliau kemudian mengalami fase sakit dan disembuhkan oleh Allah SWT melalui “cahaya” atau “nur” Ilahy yang merasuk ke dalam dada dan merupakan miftahu aktsaril ma’arif atau kunci pengetahuan tanpa batas yang juga dikisahkan dalam Hadits Nabi SAW akan sifat-sifat “nur” ini sebagai cahaya yang diberikan oleh Allah SWT ke dalam dada/jantung hati manusia untuk mencerahkan dan membuka hati dan pikiran manusia, dan menyingkap tabir yang menghalangi untuk mencapai kebenaran. Cahaya ini sesekali diturunkan oleh Allah SWT, dan manusia harus selalu bersiap dan berusaha untuk mendapatkannya.
Membaca bagaimana Imam Ghazali menjelaskan kelompok-kelompok aliran keilmuan yang saat populer saat itu membawa kita pada romantisme dunia peradaban klasik yang kaya akan perdebatan dengan tema-tema krusial yang sangat dinamis, dipenuhi dengan ahli-ahli mantiq, kalam, filsuf dan teolog, yang riuh dan menggugah keingintahuan khalayak, sama halnya dengan perdebatan-perdebatan di dunia saat ini. 4 kelompok utama yang paling mewarnai menurut beliau antara lain kelompok al-Mutakallimun, yaitu kelompok ahli ilmu logika, kelompok Al Bathiniyah yaitu kelompok pengikut kebatinan (Syiah) yang meyakini ajaran-ajaran imam mereka yang ma’shum, kelompok ahli Filsafat yaitu kelompok yang menyebut diri mereka ahli mantiq dan ahli ilmu dengan argumen yang meyakinkan, dan kelompok Sufiyah (Sufi) yang mengaku membawa nilai-nilai ketuhanan dalam memahami dan mengartikulasikan ilmu pengetahuan.
Imam Al Ghazali dengan rinci mampu menggambarkan pendekatan-pendekatan masing-masing kelompok dalam memahami ilmu dan kebenaran yang seluruhnya memiliki kelemahan-kelemahan tersendiri. Begitu banyak perdebatan keras tentang prinsip prinsip ilmu dan kebenaran antar empat kelompok ini. Namun satu hal yang penting ditekankan beliau adalah, lepas dari kelemahan dan kelebihan yang dimiliki masing-masing kelompok, kebenaran yang mutlak dan teruji oleh akal, walau itu hasil dari, misalnya ahli mantiq atau ahli filsafat, bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan oleh kelompok ahli sufi/agama. Beliau juga mensimulasikan argumentasi dengan metode debat berdasarkan interaksi beliau dengan kelompok al Bathiniyah, untuk memperjelas argumen akan sifat dan karakteristik kelompok Syiah Ismailiyah yang pada zaman itu gencar melakukan kerja-kerja misionari. Pada prinsipnya Imam Ghazali berkeyakinan bahwa Ilmu pengetahuan (science) dan kitab suci semua bersumber dari Allah SWT. Kita kerap merasa pengetahuan dan keahlian adalah usaha manusia sendiri, man jadda wa jada, tanpa menyadari bahwa otak dan ruh adalah satu kesatuan yang tak bisa digerakkan tanpa kuasa Allah SWT. Ilmu tidak cukup didapat melalui pergumulan akal, dalil aqli/naqli dan argumentasi logis, tapi juga pengamatan dan pengalaman rohani.
Dalam hal kajian kitab Ihya tahun ini, kita diperkenalkan dengan karakter orang orang zuhud di masa lampau. Salah satu Bab yang dibahas adalah Bab tentang Keutamaan Menjaga Syahwat Seksual dan Mata. Imam Al Ghazali menggambarkan bahwa mengontrol syahwat seksual bukan semata-mata untuk menghindari perbuatan zina, tetapi juga upaya menjaga kehormatan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketaatan dalam menahan dan menolak godaan syahwat bahkan dikisahkan dapat menjadi wasilah amal untuk mendapatkan keselamatan dan kemanfaatan hidup. Kisah bagaimana menahan syahwat dalam kitab Ihya adalah netral secara gender. Baik laki-laki dan perempuan keduanya digambarkan sebagai pihak yang berpotensi menciptakan godaan syahwat sekaligus juga figur zuhud yang menjaga syahwat. Tidak ada narasi-narasi yang menggambarkan, misalnya perempuan adalah gangguan iman laki-laki atau objek godaan syahwat bagi laki-laki, atau laki-laki dianggap lebih superior secara seksual dari pada perempuan karenanya perempuan harus lebih submisif, seperti halnya materi-materi ajaran pola relasi laki-laki dan perempuan yang terdistorsi oleh nilai budaya partiarki. Imam Al Ghazali secara nyata menyajikan bukti-bukti kisah dan sejarah kesamaan sifat manusia baik laki-laki dan perempuan dalam interaksi seksualnya.
Dikisahkan seorang zuhud bernama Sulaiman Bin Yasar adalah laki-laki alim yang berparas tampan dan kerap didekati oleh perempuan. Dalam setiap kesempatan beliau selalu berusaha untuk menghindari tatapan perempuan-perempuan yang mendekatinya bahkan merasa ketakutan dan berdosa hingga menangis meminta ampunan kepada Allah SWT. Kezuhudan membuat beliau disambangi oleh Nabi Yusuf A.S dalam mimpinya, dan beliau berkata: Ya Nabi Yusuf Al-Shodiq, aku kagum kepadamu akan kezuhudanmu menahan godaan perempuan (Zulaikha), Nabi Yusuf A.S kemudian berkata, sesungguhnya aku yang lebih kagum atas kezuhudanmu dalam menjaga syahwatmu. Dalam kisah lain diriwayatkan oleh Sahabat Abu Bakar bin Abdullah, di masa kenabian Bani Israil ada seorang laki-laki yang menyukai tetangganya seorang perempuan hingga suatu hari ia mengikuti perempuan tersebut yang berjalan jauh untuk satu urusan. Perempuan tersebut kemudian berkata, wahai pemuda jangan kau lakukan (perbuatan yang buruk) sesungguhnya aku pun suka kepada engkau namun aku lebih takut kepada Allah SWT. Pemuda tersebut lalu pulang dan mengalami kehausan dalam perjalanan. Dia bertemu seorang Nabi Bani Israil dan meminta doa kepadanya agar diselamatkan dari rasa haus. Nabi A.S tersebut kemudian mendoakannya, dan dalam seluruh perjalanan pulang, pemuda tersebut diliputi oleh awan yang menaunginya hingga hilang rasa haus, sebagai tanda bahwa menghindari dosa akan syahwat terhadap perempuan telah menjadi wasilah amal yang baik bagi dirinya.
Dalam kisah lain di masa Nabi Muhammad SAW diceritakan bagaimana Nabi SAW mengatur pertemuan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim secara terpisah untuk menghindari kontak pandangan antara mereka. Suatu ketika terdengar kabar bahwa akan ada salah seorang sahabat Nabi SAW yang akan berkunjung, dan beliau adalah seorang yang buta. Para istri Nabi SAW yang ada di dalam ruangan kemudian diminta untuk meninggalkan ruangan dan mereka berkata; bukankah tamu yang datang adalah orang yang buta, sehingga tidak akan bisa melihat kami? Nabi SAW berkata; ya, tapi kalian bisa melihat dia. Kisah ini menggambarkan bahwa seseorang baik laki-laki maupun perempuan harus menjaga pandangannya sekaligus tidak menjadikan satu sama lain objek pandangan, dan itu adalah usaha untuk mengontrol syahwat.
Mengaji kitab Ihya Ulumuddin dan Al-Munqidz mengajak kita untuk bertamasya secara rohani dan memahami arti perjalanan mencari kebenaran. Setelah Imam Ghazali mengalami kegundahan dan menemukan “nur” ilahy yang mengantarkannya pada perjalanan ilmu yang lebih bersifat ketuhanan, beliau memutuskan untuk rihlah, pergi meninggalkan Kota Baghdad, menanggalkan segala kemewahan dunia akademik, popularitas dan harta benda untuk pergi ke Damascus Syam, dan selanjutnya ke Mekkah, Yerusalem dan Khurasan kurang lebih dalam rentan 10 tahun, untuk tujuan meninggalkan dunia dan mendekatkan diri kepada Allah SWT menggapai pengalaman-pengalaman rohani berupa lautan ilmu dan interaksi dengan Allah SWT yang tidak bisa diceritakan secara rinci.
Wallahu a’lam bi al Shawab





Comments

Post a Comment